Senin, 23 Muharram 1441 H / 23 September 2019 M

Peran Ulama Dalam Pusaran Ancaman Disintegrasi Bangsa


Oleh: Ustaz Yudo Ratmiko
Qoid Sariyah Siyasah wal Alaqot Markaziyah Jamaah Ansharu Syariah


NKRI dalam ancaman disintegrasi bukan hanya isapan jempol belaka dan hal itu bisa menjadi kenyataan apabila pemerintah tidak segera mencarikan solusi dari permasalahan tersebut. Contoh yang paling nyata dari ancaman tersebut adalah peristiwa demonstrasi besar-besaran yang berujung pada tindakan anarkistis di bumi Papua. Rakyat Papua tidak puas dengan kebijakan pemerintah yang diterapkan di bumi mutiara hitam itu. Sebagian mereka menuntut kemerdekaan bagi rakyat dan melepaskan diri dari NKRI.

Peristiwa di Papua memberi isyarat kepada kita bahwa ada yang salah dalam tata kelola bangsa ini. Ketidakadilan, kesenjangan sosial dan ekonomi, krisis kepercayaan dan ketidakpastian hukum serta semakin menurunnya moralitas masyarakat yang jauh dari nilai-nilai agama, dll. Semua itu merupakan cerminan bahwa pemerintah hari ini tidak mampu atau gagal dalam menyejahterakan rakyatnya.

Dalam situasi seperti ini, peran ulama menjadi sangat vital. Dalam Sejarah perjalanan bangsa ini, para ulama lah yang senantiasa mampu mengatasi krisis-krisis yang terjadi dalam bangsa ini. Kehadiran ulama mampu memberikan solusi-solusi bagi persoalan yang dihadapi bangsa ini baik melalui gagasan-gagasan atau melalui dakwahnya yang menyentuh masyarakat umum secara luas. Dengan adanya krisis kepercayaan terhadap pemerintah hari ini, mau tidak mau ulama menjadi solusi yang utama dalam mengarahkan umat.

Maka ada beberapa peran yang bisa dilakukan oleh para ulama dalam mengantisipasi ancaman disintegrasi bangsa saat ini, diantaranya:

1. Ulama harus mempunyai wadah sebagai sarana komunikasi dan koordinasi antar ulama se-Indonesia guna membicarakan persoalan-persoalan yang mengancam keutuhan bangsa dan mencarikan solusinya.
2. Ulama harus berani melawan hoaks atau berita yang menyesatkan karena salah satu sebab terjadinya aksi kerusuhan adalah masifnya penyebaran berita-berita hoaks.
3. Ulama perlu membuat seruan bersama kepada umat agar sama-sama menjaga persatuan dan kesatuan.
4. Ulama perlu menegaskan kembali kepada masyarakat bahwa NKRI ini, mulai dari Sabang sampai Merauke, merupakan hasil jerih payah perjuangan para ulama terdahulu dalam melawan penjajah dengan pengorbanan darah dan nyawa. Jadi wajar apabila umat Islam hari ini, khususnya para ulamanya tidak rela kalau hari ini NKRI bubar disebabkan tangan-tangan kotor yang tidak bertanggungjawab dan merupakan antek-antek rezim penjajah baik asing maupun aseng.

Dengan demikian tugas ulama sangatlah berat. Saat ini ulama dituntut untuk menjadi air yang bisa  memberikan kesegaran dan kesejukan di tengah gurun kegusaran masyarakat oleh himpitan persoalan ekonomi, krisis kepercayaan dan dekadensi moral yang terjadi.

Akan tetapi kenyataan justru menjadi terbalik. Di tengah beratnya beban para ulama tersebut, pemerintah justru menebar propaganda untuk mengkriminalisasi para ulama yang menyeru pada perbaikan bangsa ini. Innalillahi wa innailaihi roji’un.

Semoga para ulama kita mampu bersabar terhadap fitnah yang menimpa mereka saat ini dan berharap agar mereka mengangkat tangannya serta berdoa untuk kehancuran bagi siapa saja yang mau memecah belah negeri ini. Aamiin.