Rabu, 5 Zulqaidah 1439 H / 18 Juli 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 181: "Meningkatkan Ketaatan Pasca Ramadhan"


Materi Khutbah Jumat Edisi 181 tanggal 8 Syawwal 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Meningkatkan Ketaatan Pasca Ramadhan

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Bulan yang penuh berkah telah berlalu. Bulan yang akan menjadi saksi yang akan membela setiap orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah atau justru menjadi saksi yang akan menghujat setiap orang yang memandang remeh bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, hendaknya diri kita masing-masing membuka pintu muhasabah terhadap diri kita. Amalan apakah yang kita kerjakan di bulan tersebut? Apakah faedah dan buah yang kita petik pada bulan Ramadhan tersebut? Apakah pengaruh bulan Ramadhan tersebut terhadap jiwa, akhlak dan perilaku kita?

Definisi Taat.

Secara etimologi kata taat berasal dari bahasa Arab dari kata (طاع) yang bermashdar (طوعا) yang berarti tunduk atau patuh kepada seseorang[1]. Sedangkan secara terminology taat adalah tindakan manusia untuk selalu patuh dan tunduk kepada tuhannya, baik itu secara dhohir ataupun bathin. Yang dimaksud taat secara dhohir adalah kepatuhan seseorang untuk melakukan semua perintah Allah SWT, baik yang wajib maupun yang sunnah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Dan adapun taat secara bathin ialah menerima dengan lapang dada apa yang telah disyari’atkan oleh Allah SWT baik itu yang baik (wajib) maupun yang buruk (haram).

Kondisi Salafush Shalih Selepas Ramadhan.

Pertanyaan yang teramat mendesak untuk dijawab oleh diri kita masing-masing adalah, ”Setelah Ramadhan berlalu, sudahkah kita menunaikan berbagai sebab yang akan mempermudah amalan kita di bulan Ramadhan diterima di sisi-Nya dan sudahkah kita bertekad untuk terus melanjutkan berbagai amalan ibadah yang telah kita galakkan di bulan Ramadhan?”

Tidakkah kita meneladani generasi sahabat (salafush shalih), dimana hati mereka merasa sedih seiring berlalunya Ramadhan. Mereka merasa sedih karena khawatir bahwa amalan yang telah mereka kerjakan di bulan Ramadhan tidak diterima oleh Allah ta’ala. Sebagian ulama salaf mengatakan,

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَبْلُغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Oleh karena itu, para salafush shalih senantiasa berkonsentrasi dalam menyempurnakan dan menekuni amalan yang mereka kerjakan kemudian setelah itu mereka memfokuskan perhatian agar amalan mereka diterima karena khawatir amalan tersebut ditolak.

’Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan,

كُوْنُوْا لِقَبُوْلِ اْلعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِاْلعَمَلِ أَلَمْ تَسْمَعُوْا اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَقُوْلُ : ]إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ[

”Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah ’azza wa jalla, [إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ] “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maaidah: 27).” (Lathaaiful Ma’arif: 232).

Demikianlah sifat yang tertanam dalam diri mereka. Mereka bukanlah kaum yang merasa puas dengan amalan yang telah dikerjakan. Mereka tidaklah termasuk ke dalam golongan yang tertipu akan berbagai amalan yang telah dilakukan. Akan tetapi mereka adalah kaum yang senantiasa merasa khawatir dan takut bahwa amalan yang telah mereka kerjakan justru akan ditolak oleh Allah ta’ala karena adanya kekurangan. Demikianlah sifat seorang mukmin yang mukhlis dalam beribadah kepada Rabb-Nya. Allah Ta’ala telah menyebutkan karakteristik ini dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60).

Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiallahu ‘anha ketika mendengar ayat ini, beliau merasa heran dikarenakan tabiat asli manusia ketika telah mengerjakan suatu amal shalih, jiwanya akan merasa senang. Namun dalam ayat ini Allah Ta’ala memberitakan suatu kaum yang melakukan amalan shalih, akan tetapi hati mereka justru merasa takut. Maka beliau pun bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ

“Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”

Maka Rasulullah pun menjawab,

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

”Tidak wahai ’Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (HR. Tirmidzi nomor 3175. Imam Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihut Tirmidzi nomor 2537).

Meningkatkan ketaatan dan kesabaran pasca Ramadhan.

Pada bulan Ramadhan seorang muslim melaksanakan puasa dengan penuh keikhlasan. Ia bersabar atas rasa haus dan dahaga yang luar biasa. Ia tetap mentabahkan dirinya hingga tiba waktu untuk buka puasa.

Inilah di antara nilai tarbiyah Ramadhan yang sangat mahal. Ketaatan dan kesabaran inilah yang mengantarkan para sahabat ke puncak keimanan, dan mendapat predikat ‘khairul qarni’ (sebaik-baiknya generasi).

Saat Khalid bin Walidradhiallahu ‘anhu dicopot oleh Umar radhiallahu ‘anhu dari panglima tertinggi pasukan Islam, digantikan oleh Abu Ubaidah. Lalu menempatkannya ke posisi pasukan biasa. Khalid, tidak pernah menantang, apalagi berpikir balas dendam kepada Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang saat itu menjadi khalifah.

Saat para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan selain mereka, dipimpin oleh seorang anak muda yang ditunjuk oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu Usamah bin Zain, dalam peperangan melawan Romawi. Tidak, ditemukan apapun pada masing-masing sahabat senior kecuali sami’na wa atho’na, (ketaatan yang tulus).

Beginilah ketaatan dan kesabaran generasi alumni madrasah Ramadhan. Mereka telah berhasil melewati ujian dan tantangan pada bulan Ramadhan dengan baik.

Keimanan yang mantap dapat membawa ketaatan kepada Allah SWT.

Iman dalam islam bukanlah sekedar percaya, tetapi melingkupi tiga (3) aspek, yang kesemuanya ada pada diri manusia yaitu qalbu (hati), lisan (tutur kata) dan amal sholeh (tingkah laku dan perbuatan). Apa artinya dari ketiga aspek tersebut??? Artinya adalah seseorang yang beriman harus meyakini dalam hatinya dengan sesungguh-sungguhnya tentang semua hal yang harus di yakininya, yaitu pertama yakin dan percaya Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur, kedua yakin dan percaya akan keberadaan Rasullullah SAW dan ketiga yakin dan percaya Al-Qur’an sebagai perintah dan petunjuk. Kemudian menjelaskan dengan lisan dan tutur katanya sebagai sebuah pernyataan keimanannya. Dan selanjutnya dijabarkan atau dibuktikan secara keseluruhan dalam amal sholeh perbuatannya. Tidak bisa dikatakan beriman seseorang, apabila tidak memenuhi tiga aspek tersebut. Kemudian apa-apa yang bisa menguatkan keimanan kita?? Sehingga mampu membawa ketaatan total kita kepada Allah SWT. Naaaahhhh…. berikut terapi atau beberapa cara meningkatkan keimanan kita:

  1. Shalat tepat waktu dan khusyu’, diniatkan hanya semata-mata kepada Allah SWT, kemudian di tambah dengan sholat sunnah.
  2. Shaum (puasa). Selain puasa di bulan Ramadhan, ditambah dengan puasa-puasa sunnah seperti puasa senin-kamis, puasa Daud, puasa Arafah, dan lain-lain.
  3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an. Dengan banyak membaca ayat-ayat Al-Qur’an akan membawa ketenangan di dalam hati. Dalam QS Al-Anfal ayat 2: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya. Dan hanya kepada Allah SWT mereka bertawakal.” 

Sebab yang menghalangi manusia mentaati Allah, RosulNya, dan AgamaNya.

Sesungguhnya orang Islam sangat mendambakan untuk dapat meniti (dalam) kehidupan yang fana ini di atas jalan yang benar, di jalan keridhaan-Nya.

Setiap muslim pasti menginginkan agar dalam hidupnya di dunia ini benar-benar berada di atas shirathal mustaqim (jalan yang benar), bahkan kita selalu berdoa kepada Allah SWT ketika shalat minimal tujuh belas kali dengan doa:

“Tunjukilah[2] Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[3](QS. Al-Fatihah:6-7).

Itulah doa yang selalu kita panjatkan, agar kita dapat tetap berjalan di atas kebenaran dan ketaatan. Tetapi, ketika kita berusaha untuk mentaati kebenaran, mengikuti jalan Islam yang haq, untuk taat kepada Allah SWT, mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan jalan para sahabat Rasulullah, apalagi sampai membela dan memperjuangkan syariat Islam agar tegak dan berkuasa diatas semua agama, sistem, dan hukum manusia ternyata merealisasikan itu semua tidaklah mudah, karena dia harus menghadapi banyak rintangan dan godaan yang selalu menghalanginya dari ketaatan tersebut. Segala macam tantangan dan rintangan menghadang kita, agar kita gagal meraih cita-cita mulia, gagal menghadapi ujian hidup. Penghalangnya bersumber dari dalam diri kita sendiri tantangan dan rintangan berupa hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan, ditambah dengan musuh-musuh dari luar berupa syaitan dari jin dan manusia yang bekerja mati-matian siang dan malam untuk menyesatkan manusia dari jalan ketaantan dan kebenaran.

Mereka bekerjasama dan saling tolong-menolong dalam hal dosa dan perumusuhan.

Diantara sebab yang menghalangi manusia untuk mentaati Islam dan menegakkannya adalah sebagai berikut :

  1. Kurangnya ilmu dan lemahnya pemahaman tentang kebenaran dan ketaatan kepada Islam dan urgensi penegakkannya dalam kehidupan manusia.

Kita telah mengetahui, bahwa seorang muslim wajib untuk menutut ilmu, karena ilmu itu adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Dengan ilmu ia dapat membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang batil (sesat).

Banyak dari hal-hal yang benar akan dianggap salah dan yang ternyata salah akan dianggap benar oleh seseorang, disebabkan karena kurangnya ilmu tentang dien (Islam) dan disebarkan virus syubhat yang menghalangi manusia dari kebenaran dan pengamalannya serta dijauhkannya manusia dari para penyampai kebenaran dan pejuang penegak syariat Islam. Ulama yang melakukan aksi bela Islam diteror, dikriminalisasi dan dipersekusi, dipenjara, dan dibunuh.

Dengan sangat masifnya penyebaran virus syubhat mengakibatkan umat manusia tidak tahu kebenaran dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang sesat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Dan sesungguhnya, tidak ada seorangpun yang dapat selamat dari fitnah syubhat ini, kecuali dengan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah SAW (semata) dan berhukum kepadanya tentang masalah dien (Islam) dalam hal-hal yang kecil maupun yang besar.” (Kitab Ighatsatul lahafan, juz 2, hal.176-177).

Allah SWT berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)[4].(QS. Al-An‘Am: 116 ).

  1. Hati yang kotor akibat maksiat.

Imam Ibnu Qayyim mengatakan: “Bisa jadi pengetahuan dia tentang ilmu tersebut sempurna, kedudukannya sebagai tokoh umat dengan gelar yang mulia, tetapi tidak cukup hanya pengetahuan saja untuk bisa mengikuti dan mentaati kebenaran (apalagi menegakkannya). Ada syarat lain, yaitu harus bersih atau dia telah siap untuk menerima kebenaran, siap untuk dibersihkan. Apabila dia sendiri belum dibersihkan, maka kebenaran yang datang akan sulit diterima, apalagi untuk diikuti. Apabila tempatnya itu tidak bersih dan juga tidak siap untuk dibersihkan, maka seumpama tanah gersang, meskipun turun hujan tetap tidak menumbuhkan tanaman-tanaman  disebabkan tanah itu tidak pantas untuk tumbuhnya tanam-tanaman tadi. Apabila seseorang memiliki hati yang keras seperti batu, ia tidak bisa menerima pembersihan hati. Nasehat-nasehatpun tidak berdampak kepadanya. Maka, tidaklah bermanfaat ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut. Sebagamana tanah yang tandus meskipun turun hujan setap hari, tetap tidak bisa menumbuhkan tanam-tanaman.

Begitupun hati manusia, apabila ia banyak berbuat dosa dan maksiat, pemikirannya diwarnai, dibina dan dididik  dengan paham sesat seperti sekularisme, liberalisme, plularisme, dan komunisme, jauh dari aturan-aturan Allah SWT maka hatinya menjadi kotor. Setiap  melakukan kemaksiatan hatinya ternoda dengan noda hitam. Apabila berbuat dosa lagi, bertambah lagi noda hitamnya sampai hatinya hitam pekat, tidak mengenal mana yang baik dan tidak mengingkari yang munkar. Kalau hati seseorang seperti hati mayit, hati yang mati, maka ilmu yang dia miliki tidak dapat bermanfaat lagi. Oleh karena itu, hati harus selalu dibersihkan dengan banyak istighfar, bertaubat, menuntut ilmu, beramal shalih, meninggalkan perbuatan maksiat sehingga nantinya hati menjadi hidup, bersih putih serta suci kembali dan siap menggapai hidayah dan mentaatinya.

  1. Sombong dan dengki.

Sombong dan dengki ini menghalangi manusia untuk mengikuti dan mentaati kebenaran. Inilah yang menjadi penghalang iblis untuk tunduk kepada perintah Allah SWT ketika Allah memerintahkan iblis untuk sujud kepada Adam mereka menolaknya dengan sombong dan iblis termasuk makhluk yang kafir. Iblis sombong karena menganggap dan merasa bahwa dirinya lebih mulia, karena ia diciptakan dari api, sedangkan adam diciptakan dari tanah. Iblis merasa tidak pantas untuk menghormati adam. Ini adalah bentuk kesombongan sehingga ia tidak bisa mengikuti dan mentaati kebenaran.

Hati kita harus dibersihkan dari sifat sombong di antara hal yang menyebabkan manusia menjadi sombong adalah karena dia merasa mempunyai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia merasa lebih dari yang lainya sehingga merasa lebih tinggi dari yang lain dan merendahkan selain dirinya. Sebab sombong yang lain adalah karena harta, seseorang yang merasa dirinya memiliki banyak harta dan uang, maka ia bisa menjadi sombong kepada yang lainnya. Sebab sombong yang lain lagi adalah karena keturunan. Merasa berasal dari keturunan mulia sehingga sombong kepada yang lainnya.

Selain sifat sombong adalah hasad atau iri dengki. Diantara manusia ada yang tidak mengikuti kebenaran karena dengki.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1][4] Achmad Warson Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), hlm. 871.

[2] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

[3]Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

[4] Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah Dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.