Rabu, 10 Zulhijjah 1439 H / 22 Agustus 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 187: "Ibroh Sejarah Kecermerlangan Diplomasi Dengan Pengusa"


Materi Khutbah Jumat Edisi 187 tanggal 21 Dzulqaidah 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Ibroh Sejarah Kecermerlangan Diplomasi Dengan Pengusa

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Kecemerlangan delegasi Islam dalam berdiplomasi dengan raja.

Perkataan Delegator Islam Ja’far bin Abu Thalib kepada raja Najasyi:

“Wahai sang raja, kami dahulunya kaum ahli jahiliyah; kami menyembah berhala, memakan bangkai, berzina, memotong tali persaudaraan, hidup bertetangga tidak baik dan si kuat memakan si lemah. Sampai akhirnya Allah membangkitkan di tengah kami seorang Rasul. Kami tahu persis nasab, kejujuran, amanah maupun kesetaraannya. Lantas Rasul tersebut menyeru kami kepada Allah, agar kami mengesakan dan menyembah-Nya. Dan kami pun melepaskan setiap agama selainnya, yang selalu jujur dalam ucapan, menunaikan amanat, menyambung tali persaudaraan, hidup rukun bertetangga, tidak mengawini mahram dan tidak menumpahkan darah. Beliau melarang kami berbuat zina. Rasul tersebut juga memerintahkan kami untuk shalat, membayar zakat dan shiyam.”

Kemudian kaum kami menganiaya kami. Mereka menyiksa kami dan membikin fitnah atas agama kami, dengan tujuan agar mereka mengembalikan kami menyembah berhala-berhala. Agar kami menganggap halal hal-hal yang jijik. Maka ketika mereka memaksa, menganiaya dan menekan serta berusaha memisahkan kami dari agama kami, maka kami pun keluar menuju negerimu. Kami tidak memilih selain engkau. Kami suka hidup berdampingan denganmu. Dan berjanji tidak akan berbuat aniaya di sisimu, wahai raja.”

Ibroh (pelajaran) yang bisa diambil dari dialog delegasi Islam dalam berdiplomasi kepada raja Najasyi adalah Kaum muslimin ternyata memiliki ketajaman pikir dan kepandaian yang tinggi. Mereka berhasil menghancurkan tipu daya musuh, padahal di pihak musuh terdapat Amr bin Ash, seorang bangsa arab yang memiliki kecerdikan.

Sungguh barisan kaum muslimin di Habasyah mempunyai ciri khas lain dari yang lain. Yang pertama mereka memiliki rasa saling kasih sayang dan percaya di antara para jamaahnya. Yang kedua, mereka sepakat untuk mengadakan musyawarah bila menghadapi kasus. Sebagaimana kisah yang telah diberikan Ummu Salamah, “Maka tatkala datang utusan (juru bicara) kaum muslimin, mereka segera berkumpul saling berdiskusi.” Dengan begitu, satu pendapat pun di antara mereka tidak ada yang tersisih dari saudaranya yang lain. Dan ciri yang ketiga adalah kemampuan mereka untuk memilih seorang pembicara resmi, di mana secara tepat mereka menampilkan Ja’far radhiyallahu ‘anhu untuk menghadapi pertanyaan masalah agama.

Ja’far ra. pun telah mampu membeberkan Islam sebagai sosok agama yang mempunyai karakter yang khas, yang jarang kita dapatkan dalam sejarah. Ja’far ra menjelaskan dengan mengajukan empat permasalahan pokok:[1]

  1. Membeberkan kejahatan jahiliyah, kelemahan dan kebusukan agama yang dianut para tamu Quraisy tersebut yang dijauhi setiap jiwa manusiawi. Tema inilah yang justru menjadi obyek untuk menghancurkan pikiran-pikiran yang di tampilkan Amr bin Ash dan rekannya.
  2. Telah dibeberkan pula kaidah-kaidah dan asas-asas yang bisa dibenarkan oleh setiap orang yang mempunyai nalar sehat, termasuk sang raja yang bijaksana dan berpengalaman. Ini merupakan kesempatan bagi Ja’far ra untuk memukul telak musuh disamping juga karena ingin menyeru kepada Islam, sesudah berhasilnya misi politis, yaitu menjaga eksistensi Islam di Habasyah. Dengan demikian, di dalam mengetengahkan tema kedua Ja’far ra telah mendekatkan jiwa Najasyi kepada Islam.
  3. Telah dibeberkan pula kezhaliman yang ditimpakan atas kaum muslimin. Ini membuktikan adanya penekanan yang dilakukan orang-orang Quraisy atas kaum muslimin lantaran mereka berpegang teguh pada Islam. Berangkat dari hal ini, nampaklah mereka sebagai sosok kaum yang loyal kepada kenabian Isa. Hal ini telah memberikan pengaruh seperti sihir dalam jiwa kaum Nasrani, yang menjunjung tinggi nilai pengorbanan dan penebusan, hingga mereka telah mengubah agamanya menjadi sistem kepasturan dan kependetaan yang mereka adakan sendiri guna mencari keridhaan Allah. Dengan demikian dalam tema ketiga ini, Ja’far ra telah berhasil melunakkan hati Raja Najasyi, setelah berhasil menjinakkan pikirannya. Orang yang mendengar perkataan ini seolah melihat ada sekelompok orang baru yang loyal kepada risalah Nabi Isa as, dimana mereka ini sedang berkumpul di hadapan sang raja Habasyah. Hal ini tercermin dalam sikap raja yang menyatakan bahwa kaum Quraisy termasuk dalam golongan durjana yang sombong. Hingga hati sang raja pun berpaling dari mereka, dan pikirannya menolak gagasan mereka.
  4. Ja’far pun memberikan sanjungan secara tepat kepada sang raja. Bahkan dia telah menempatkan idealisme dan kedudukan raja untuk menolong kaum lemah. Dengan demikian dalam tema keempat ini, Ja’far telah menjadikan akhir pembicaraannya menjadi pembangkit jiwa satria dan jiwa pahlawan dalam diri raja.

Sesudah ditampilkan bebagai keagungan jiwa dan kepribadian Islam dalam berbagai liku-likunya, maka guncanglah jiwa Amr bin Ash dan rekannya dengan guncangan yang dahsyat oleh karena kekalahan telak yang dialaminya.

Sesungguhnya berbagai titik permasalahan yang disandarkan pada Islam merupakan titik temu antara ajaran Nasrani dan Islam. Titik pertemuan ini talah dibekukan, hingga seolah menjadi titik pertentangan. Karena itu seorang Muslim amat memerlukan pelajaran-pelajaran ini agar dapat digunakan. Hal ini merupakan program umum untuk menghadapi berbagai pertemuan yang mengiringi aktivitas kepemimpinan politik tingkat tinggi.

  1. Memerinci kejelekan jahiliyah yang hendak memusuhi orang-orang yang ada dalam persidangan atau minimal tidak mengikuti pendapat-pendapatnya.
  2. Menampilkan prinsip-prinsip atau sendi-sendi umum Islam yang menjadi landasan bangunannya setelah menghancurkan faham-faham jahiliyah yang lama.
  3. Menampilkan berbagai kezaliman dan penganiayaan yang dialami para da’i dari penguasa zalim dan golongan yang sewenang-wenang.
  4. Menampilkan harapan besar yang bisa menggiring jalannya persidangan untuk melenyapkan kezaliman dengan memuji pihak tertentu secara wajar.
  5. Menghindari titik perselisihan dan gejolak yang mungkin akan merusak suasana antara siasat muslim dan jalannya persidangan. Perundingan ditutup dengan membaca surat Maryam atas permintaan Raja Najasyi untuk mendengar sesuatu yang dibawa  Rasulullah. Dan tidak ada sesuatu yang menyentuh hati Najasyi, kecuali apa yang didengar dari permulaan surah Maryam, berisi tentang peranan Maryam. Dia mengeluarkan suatu keputusan akhir: “Hal ini sama dengan apa yang dibawa Isa as, dan berasal dari satu sumber.”

Seorang utusan (diplomat) yang dapat membuat seorang raja menangis karena menyadari kebenaran adalah seorang utusan yang sukses. Keberhasilan membatalkan upaya pengungsian dari negeri raja tersebut. Dan alangkah hebatnya utusan ini yang memiliki kepandaian dan kejeniusan untuk mendapatkan kepercayaan. Setelah keberhasilannya dalam bidang diplomasi, dia berhasil pula merekrut raja itu masuk Islam.

Selesai sudah perundingan dengan putusnya hubungan antara Raja Najasyi dengan Amr dan kawannya. Bahkan dia menyuruh agar hadiah-hadiah yang diberikan mereka dikembalikan. Hal ini mengandung arti, dalam ukuran diplomasi sekarang, adalah putusnya hubungan diplomatik antara dua kedaulatan Makkah dan Habasyah, dan penutupan perwakilan diplomatik antara kedua negara, serta pengakuan resmi negeri Habasyah terhadap kebebasan dakwah Islam.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1]Syaikh Munir M. Al-Ghadhban, Al-Manhaj Al-Haraki Lis-Sirah An-Nabawiyah Juz 1, terj. Manhaj Haraki Dalam Sirah Nabawi( Solo : CV PUSTAKA MANTIQ, 1997) hal.85-86