Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Hukum Ta’liq (menggantungkan) Talak


Nomor: 143710050009

Pertanyaan:

Assalamualaikum
Saya ada soalan nak tanya. Saya dah cerai dengan suami saya 2 kali. Dan semalam suami saya cakap kalau saya keluar dari rumah akan jatuh talak ketiga dan suami saya yang keluar dari rumah. Dah jam 1 pagi saya keluar cari dia. Apakah jatuh talak?

Hamba Allah, Jawa Barat

Jawab:

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah.

Masalah ini termasuk permasalah yang pelik dalam pembahasan talak. Perselisihan pendapat di dalamnya sangat kuat karena kuatnya syubhat dan kesamaran dalil-dalil nash, dasar-dasar, dan penentuan niat suami yang mengucapkan ta’liq talak serta dampaknya pada akad. Rinciannya sebagai berikut:

Ta’liq (menggantungkan) talak pada kondisi tertentu terbagi menjadi dua:

1. Ta’liq talak pada kondisi tertentu dengan tujuan menetapkan batasan waktu akan terjadinya talak dan berakhirnya pernikahan

Seperti seorang suami mengatakan, “Jika telah masuk waktu malam atau setelah habis bulan atau setelah saudara laki-lakimu datang maka engkau tertalak,” dan lafal yang serupa dimana suami yang mengucapkannya menggantungkan terjadinya talak dan berakhirnya pernikahan dengan terpenuhinya kondisi tertentu. Usaha dan perbuatan istri tidak masuk dalam kondisi yang disyaratkan.

Untuk jenis ta’liq talak ini, talak benar-benar terjadi dan tidak ada khilaf (selisih pendapat) diantara ahli fiqih dan tidak ada permasalahan sedikit pun dalam masalah ini.

2. Ta’liq talak pada kondisi tertentu yang bukan berupa penetapan waktu terjadinya talak dan berakhirnya pernikahan

Seperti menggantungkan talak pada perbuatan istri, misalkan jika istri keluar rumah, safar (bepergian jauh), pergi menemui seseorang, mengambil harta tertentu, atau yang semisalnya. Untuk jenis ta’liq talak ini terbagi menjadi dua bagian sesuai dengan niat suami yang mengucapkannya:

a. Suami berniat menjatuhkan talak, tidak ada maksud lain selain itu dengan ucapannya, “Jika engkau keluar maka engkau tertalak,” dan dia ingin menggantungkan talaknya dengan terpenuhinya kondisi ini, maka ta’liq talak seperti ini sama dengan jenis talak no. 1 di atas. Talak terjadi dengan ucapannya itu karena itulah maksud dari ucapannya. Talak terjadi dengan terpenuhinya kondisi yang disebutkan. Tentang jenis ini, tidak ada perselisihan pendapat diantara ulama.

b. Dengan ta’liq talaknya tersebut, suami bermaksud untuk mengancam, melarang, dan memaksa istrinya agar tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu.

Untuk ta’liq talak jenis ini para ahli fiqih berselisih pendapat. Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa talak terjadi sebagaimana seharusnya seiring terpenuhinya kondisi yang disebutkan.

Berbeda dengan jumhur (mayoritas) ahli fiqih, Syaikh Taqiyuddîn Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat talak tidak terjadi dan hukum ta’liq talak seperti ini sama dengan hukum sumpah yang cukup dengan membayar kaffârah sumpah untuk membebaskan dirinya dari sumpah tersebut. Beliau menjelaskan dalam Majmû’ Al-Fatâwâ (Jilid 33, hal. 60), “Inti masalah ini adalah hendaknya diperhatikan niat atau maksud suami yang mengucapkannya. Jika tujuannya menjatuhkan talak seiring terpenuhinya kondisi yang disebutkan maka terjadilah talak. Dan jika maksud ucapannya itu adalah sumpah yaitu hanya sebagai ancaman terhadap sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi, maka jika terpenuhi kondisi yang disebutkan maka talak tidak terjadi dan dia hanya dianggap sebagai orang yang mengucapkan sumpah, bukan talak dan nadzar.” Selesai ucapan Syaikh.

Bisa jadi, inilah pendapat yang lebih mendekati pada kebenaran ditinjau dari beberapa alasan:

1. Ucapan suami, “Jika engkau keluar maka engkau tertalak,” tidak dimaksudkan untuk mentalak istrinya, tapi dia maksudkan hanya untuk melarang dan mengancam istrinya dari perbuatan tersebut.

2. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan Mâriyah Al-Qibthiyah untuk diri beliau karena ingin menyenangkan istri-istri beliau lainnya yang sedang cemburu, Allah subhanahu wata’ala menganggapnya hanya sebagai sumpah dan memberlakukan hukum sumpah yaitu cukup membayar kaffârah sumpah untuk membebaskan dirinya dari sumpah tersebut dan tidak menganggapnya sebagai ucapan zhihâr (suami mengharamkan istrinya untuk dirinya). Allah subhanahu wata’ala berfirman,

قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡۚ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Tahrîm: 2)

Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qoyyim rahimahumallah telah meneliti ulang dan berpendapat bahwa ta’liq talak yang ditujukan untuk melarang atau mendorong istri pada sesuatu disebut sumpah dalam istilah bahasa dan dalam ‘urf (kebiasaan) yang dipahami oleh para ahli fiqih. Maka ta’liq talak jenis ini masuk dalam keumuman nash-nash tentang sumpah dan diberlakukan hukum sumpah padanya.

3. Hukum asal yang berlaku umum bahwa dalam syari’ah seseorang tidak dihukum karena ucapan yang tidak serius dan tidak dimaksudkan seperti maksud ucapan tersebut, tapi ucapan tersebut keluar dari lisannya tanpa bermaksud untuk  bersumpah atau mentalak. Maka ucapan seperti ini disebut laghwul yamîn (sumpah yang tidak bermakna), seperti orang yang mengucapkan sumpah sementara ucapan itu keluar dari lisannya tanpa ada maksud untuk bersumpah. Demikian juga orang yang mengucapkan ucapan kekafiran yang tidak dia maksudkan untuk itu maka dia tidak kafir. Semua ini menunjukkan bahwa dalam masalah ini maksud, niat, atau tujuan orang yang mengucapkan dijadikan sebagai pertimbangan sebab bisa jadi seorang suami mengucapkan kata-kata talak dengan lisannya dan dia tidak bermaksud demikian. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.” (QS Al-Mâidah: 89)

4. Sesungguhnya telah berlaku dalam kebiasaan masyarakat, seorang suami berkata kepada orang lain, “Saya akan menjatuhkan talak atau istriku haram bagiku jika dia tidak masuk ke dalam rumahku,” sedangkan dengan ucapan itu dia hanya bermaksud untuk mendorong istrinya melakukan perbuatan tersebut dan tidak bermaksud untuk mentalak dan mengharamkan istrinya untuknya.

Dengan beberapa alasan ini menjadi jelas kepada kita bahwa jika seorang suami mengucapkan ta’liq talak dan dia tidak bermaksud untuk mentalak istrinya dengan ucapan tersebut maka ucapannya disebut sumpah dan diberlakukan hukum sumpah atasnya karena yang dia maksudkan adalah memaksa istri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dalam hal ini, dipakainya lafal talak tujuannya untuk penegasan. Jika sang istri keluar rumah maka suami wajib membayar kaffârah sumpah dan talak tidak terjadi, insyaa Allah.

Catatan:

Rincian pembahasan dan hukum yang dijelaskan di sini hanya menyandarkan pada pembahasan secara umum. Adapun hukum terhadap permasalahan ta’liq talak tertentu dikembalikan kepada hakim pengadilan agama dan ulama yang berkompeten yang bisa mengkaji permasalahannya secara mendalam dan setelah mendengarkan keluhan-keluhan dari pihak suami dan istri.

Dinukil dari tulisan:
Syaikh Khâlid bin Su’ûd Al-Bulaihad
Anggota Al-Jam’iyah Al-‘Ilmiyah As-Su’ûdiyah Lis Sunnah
Email: binbulihed@gmail.com
11 Rajab 1430 H
Sumber: https://saaid.net/Doat/binbulihed/f/271.htm

Kesimpulan:

Dari pembahasan di atas bisa disimpulan bahwa ta'liq talak seperti yang disebutkan dalam pertanyaan hukumnya kembali pada niat dan tujuan suami yang mengucapkannya:

  1. Jika niat suami mengucapkannya sebagai ancaman agar istri tidak keluar rumah maka talak tidak terjadi san konsekuensinya suami harus membayar kaffârah sumpah.
  2. Jika suami mengucapkannya dengan niatan memang ingin mentalak istrinya jika sang istri keluar rumah maka talak terjadi.

Tinggal cek ke suami tentang maksud dari ucapan ta’liq talaknya sebagai ancaman atau memang ingin mentalak.

Atau jika tidak memungkinkan, tinggal menunggu sikap suami setelah itu. Jika suami kembali ke rumah dan masih memperlakukan istrinya tersebut sebagai seorang istri maka talak tidak terjadi karena itu menunjukkan niat dan tujuan ta’liq talaknya hanya sebagai ancaman saja. Namun jika yang terjadi sebaliknya, sang suami tidak lagi menganggapnya sebagai istri dan menganggapnya sebagai orang lain maka talak terjadi karena itu menunjukkan niat dan tujuan ta’liq talaknya adalah untuk mentalak istrinya jika keluar rumah.

Allâhu a’lam bish showâb.
Senin, 6 Syawal 1437 | 11 Juli 2016

Untuk file nya silahkan di download: