Rabu, 10 Zulhijjah 1439 H / 22 Agustus 2018 M

Kebatilan Tidak Akan Hilang Selama Kebenaran Tidak Dilontarkan


JAKARTA (Ansharusyariah.com) – Kepemimpinan adalah pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan. Demikian dikatakan Ketua Majelis Syari'ah Jama'ah Ansharusy Syari'ah Ustadz Fuad Al Hazimi dalam Seminar Kepemimpinan Islam di Hotel Sofyan Betawi Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Ia mengutip perkataan Imam Ghazali dalam kitab Al Iqtishod fil I’tiqod yang mengatakan, agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar. Agama adalah landasannya sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya dasar pondasi pasti akan rusak dan sesuatu yang tidak dijaga pasti akan hilang.

“Oleh karena itu masalah kepemimpinan ini sangat penting untuk diberikan landasan dan juga dijaga. Sejarah mencatat bagaimana kepemimpinan selalu menjadi satu hal yang diperebutkan oleh yang haq dan yang bathil,” papar Ustadz Fuad.

Ustadz Fuad melanjutkan, Al Qur’an dalam surat Al Israa ayat 81 menyebutkan, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.

Ia mengutip penjelasan Syeikh Abu Qatadah Al Filistini mengenai ayat diatas, bahwa kebatilan tidak mempunyai eksistensi seperti halnya kegelapan.

“Ketika haq muncul maka bathil akan sirna. Gelap itu tidak punya eksistensi, maka ketika cahaya muncul gelap akan hilang,” terangnya.

Akan tetapi, untuk melenyapkan kebatilan membutuhkan kekuatan. Ia mengutip surat Al Anbiya ayat 18, “Bahkan Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.“

“Inilah sifat dasar al haq, yaitu selalu harus dilontarkan. Maka kekuatan itu adalah landasan dari al Ahaq. Oleh karena itu alhaq tidak akan muncul kalau tidak yang melontarkannya. Ketika alhaq dilontarkan albathil akan hancur,” paparnya.

Oleh karena itu, kata dia, Jama'ah Ansharusy Syari'ah berharap seminar ini bisa melahirkan sebuah konsep tentang teknis “melontarkan alhaq kepada kebatilan’ dengan berbagai konsep baik dengan gerakan Islam yang di dalam parlemen maupun yang diluar.

“Kemudian menghasilkan sebuah sinergi yang kuat sehingga potensi umat Islam tidak habis hanya untuk berbantah-bantahan,” tutupnya. (AJ)