Jum'at, 5 Rabiul Akhir 1440 H / 14 Desember 2018 M

Khutbah Idul Fithri 1439 H: "Ramadhan Mengokohkan Perjuangan Menuju Baldah Thoyyibah"


Materi Khutbah Idul Fithri 1439 H ini dikeluarkan

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah

Download File:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وّأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَتَبَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ الصِّيَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ فِيْهِ الُقُرْانَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْـدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَّلِّ وسلم عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَأَصْـحَابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى اخِرِ الزَّمَانِ، أما بعد: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قـَالَ اللهُ تَعاَلَى فِي الْـقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ:

 

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

 

RAMADHAN MENGOKOHKAN PERJUANGAN MENUJU BALDAH THOYYIBAH

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu Ma’asyiral muslimin, a’azzakumullah,

Pagi ini kita berkumpul di sini, merapatkan jiwa dan raga, menadahkan hati untuk mengharapkan cucuran rahmat Ilahi. Pagi ini kita berkumpul di sini, bertakbir, membesarkan nama Allah, agar terpatri sampai ke relung hati bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, selainNya adalah kecil di hadapanNya. Permasalahan sebesar apapun, menjadi kecil di hadapan keagungan kekuasaanNya. Musuh yang kuat, menjadi lemah di hadapan kekuatanNya yang tiada berbatas. Mari bertakbir dengan jiwa, lisan dan raga kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu Kaum muslimin rahimakumullah,

Semua warga bangsa pasti mengharapkan keberkahan, kesuksesan, kemakmuran, kedamaian, dan kebahagiaan dalam hidupnya. Cita-cita mulia ini tentu tidak turun dari langit begitu saja, tetapi harus direalisasikan melalui komitmen kuat semua pihak, usaha sungguh-sungguh, perjuangan tiada henti, bersyukur, perbaikan terus-menerus, dan berdoa sepenuh hati.

Cita-cita negeri dan bangsa yang ideal itu pernah diwujudkan oleh negeri Saba' di bawah pimpinan Ratu Balqis. Hal ini dijelaskan oleh Al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (15) فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (16) ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ (17)

15. Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". 16. tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.[2] 17. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba': 15).

Sayangnya, cita-cita mulia tersebut tidak selalu mudah diwujudkan karena sebagian kecil dari warga bangsa ini bermental serakah dan kurang peduli terhadap warga bangsa yang terpinggirkan dan termiskinkan akibat kebijakan yang cenderung memihak mereka yang menguasai aset strategis bangsa.

Di tengah melambungnya sejumlah bahan kebutuhan pokok seperti beras, merebaknya penyakit difteri dan gizi buruk, spirit perjuangan untuk mewujudkan baldah thayyibah, negeri yang gemah ripah loh jinawi, tidak boleh surut dan melemah.

Salah satu kata kunci mewujudkan baldah thayyibah adalah menjadi bangsa yang pandai bersyukur. Aneka kekayaan yang melimpah ruah di negeri ini harus dapat disyukuri dan dinikmati oleh mayoritas warga, bukan dikuasai dan dimonopoli oleh segelintir orang yang serakah dan tamak.

Ketahanan pangan tidak boleh diserahkan kepada pihak tertentu yang kemudian memonopoli dan mengendalikan harga-harga kebutuhan rakyat sesuka mereka. Sehingga harga-harga kebutuhan pokok menjadi sangat mahal dan menyengsarakan rakyat.

Oleh karena itu, sebagai pemegang amanat rakyat, pemerintah harus pandai bersyukur dengan mengembangkan manajemen ketahanan pangan yang berpihak kepada rakyat, khususnya para petani dan nelayan, bukan menguntungkan para kapitalis mafia pangan yang serakah.

Negeri yang subur dengan sumber daya alam yang luar biasa ini hendaknya tidak diingkari dengan memiskinkan para petani dan nelayan karena kebijakan yang diambil tidak jarang menomorsatukan impor daripada memberdayakan para petani dan nelayan. Pemiskinan para petani dan nelayan secara struktural dan kultural sejatinya merupakan indikator kurang bersyukurnya pemerintah terhadap karunia yang diberikan Tuhan pada negeri agraris dan maritim ini (QS. An-Nahl: 112).

Baldah thayyibah bukanlah sebuah utopia. Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sudah membuktikan bahwa negeri yang adil makmur, sejahtera, dan bahagia lahir dan batin di Madinah benar-benar dapat diwujudkan secara bersama-sama dan penuh kebersyukuran, termasuk hidup berdampingan secara harmoni dan toleransi dengan komunitas lain.

Oleh karena itu, ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi di antara warga bangsa ini harus diatasi sehingga baldah thayyibah sulit direalisasikan. Sikap peduli, saling empati dan simpati, gemar menolong dan berbagi kepada sesama harus menjadi karakter mulia bagi para pemimpin negeri dan mereka yang hidup berkecukupan, bahkan bergelimang kekayaan.

Al-Qur’an mengingatkan kita semua agar jangan sampai ada kelompok tertentu yang hidup bermewah-mewahan, sementara sebagian saudara kita menderita kelaparan, gizi buruk, dan hidup di bawah garis kemiskinan (QS. Al-'Isra': 58).

Dengan demikian, baldah thayyibah harus diperjuangkan secara optimal dengan tidak membiarkan sekelompok warga bangsa yang bersikap tamak, rakus, korup, hidup bermewah-mewahan, hedonis, dan permisif (QS. Al-Qashash: 58).

Jadi, spirit pembangunan menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur itu harus menjadikan bangsa ini saleh: beriman, berilmu, bersyukur, dan berkarakter mulia, dan bukan sebaliknya.

Ramadhan mengokohkan perjuangan menuju baldah thoyyibah

Agar ramadhan bisa mengokohkan semangat juang menuju baldah thoyyibah (negeri makmur yang diberkahi) maka maka harus dilakukan beberapa langkah berikut ini:

  1. Ramadhan Melatih diri Memurnikan ibadah hanya untuk Allah.

Sungguh sebagai muslim, mengutip firman Allah SWT: Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162) kita telah berulang menyatakan komitmen kita untuk mendedikasikan shalat kita, ibadah kita, bahkan hidup dan mati kita hanya untuk Allah SWT semata.

Andai semua umat Islam setelah dibina ramadhan sebulan penuh mereka semua berpegang teguh pada komitmen ini, insyaAllah banyak sekali masalah-masalah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang bisa diselesaikan dengan insyaAllah relatif mudah. Mengapa? karena kita mempunyai basis/pijakan yang sama dalam menyelesaikan masalah yakni Alquran dan sunnah sebagaimana disebutkan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59) namun jika tidak maka akan terjadi perselisihan, perpecahan dan permusuhan.

Inilahlah kunci untuk sebuah negeri dengan predikat baldah thayyibah karena dengannya negeri menjadi berkah, kaya, makmur, dan aman. Hal ini bisa dipahami dari firmanNya: “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).

Ketika ibnu katsir menafsirkan ayat Saba’: “Allah mengutus kepada mereka beberapa rasul yang menyeru mereka agar memakan rizki  yang diberikannya dan agar mensyukurinya dengan mentauhidkannya dan beribadah kepadanya (Tafsir ibnu katsir, 6/507) dan arti wa robbun ghofur: Yakni (Rabb kalian) adalah Rabb yang Maha Pengampun, jika kalian terus-menerus dalam mentauhidkannya (tafsir ibnu katsir, 6/507).

  1. Ramadhan mengajarkan arti Syukur Nikmat.

Ramadhan mendidik kita untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur. Betapa rasa lapar yang melilit dan haus yang mencekik tenggorokan mengajarkan kita betapa menderitanya saudara-saudara yang tidak ada makanan sepanjang harinya, apalagi saudara kita yang terus-menerus dizalimi israel yahudi di Palestina. Firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa kisah nyata negeri saba merupakan negeri yang alamnya baik dan penduduknya shalih, sehingga mereka menerima kenikmatan sangat luar biasa tersebut. Namun karena akhirnya perilaku mereka itu berubah dan luntur, maka turunlah azab atas mereka yang menghapuskan kenikmatan-kenikmatan yang sebelumnya mereka terima disebabkan karena tidak mensyukuri nikmat anugerah dari Allah SWT. Ini merupakan pelajaran sangat berhargabagi umat manusia setelahnya.

  1. Ramadhan melatih berjuang menundukkan nafsu (syahrul jihad).

Sesuai hakikat puasa puasa adalah menahan diri dan menahan hawa nafsu bukan membunuh hawa nafsu, puasa mendidik manusia agar dapat melakukan pengendalian diri (self controll) dan pengaturan diri (self regulation). Dan semua ini butuh perjuangan yang sungguh-sungguh.

Membangun Negeri yang makmur dan diberkahi tidaklah mudah, butuh pengorbanan dan perjuangan yang gigih mengatasi rintangan, hambatan, dan berbagai macam krisis yang melanda negeri kita ini. Nasib bangsa ini tidak akan berubah jika tidak ada usaha dengan perjuangan yang sungguh-sungguh dengan tunduk dan patuh kepada syariat agama Allah.

Ramadhan adalah bulan perjuangan. Perjuangan dimulai dari membangun pribadi pemimpin, kalangan elit dan rakyat yang beriman, tunduk, sholeh dan tidak sombong melalui ramadhan, sehingga Allah SWT akan menurunkan rahmat, ampunan, dan keberkahanNya.

  1. Ramadhan mengajarkan pentingya kekuatan doa yang sungguh-sungguh

Do'a itu mempunyai kekuatan yang dashyat. Tapi umat Islam zaman sekarang seperti tidak peduli dengan kekuatan do'a. Kita melihat umat muslim zaman sekarang jarang berdo’a kepada Allah. Salah satu alasannya adalah karena kesesatan yang tersebar, dimana mereka berdo’a kepada selain Allah.

Juga karena teknologi sudah sangat maju sehingga kita begitu bergantung kepadanya, bergantung pada mesin-mesin canggih, bergantung kepada para intelektual, cendikiawan, dokter, fisikawan, dan lain-lain, sehingga menyebabkan kita lupa tentang kekuatan do’a.

Juga karena umat muslim terlalu sibuk dengan kehidupan sehari-hari. Terkadang mereka harus bekerja seminggu penuh, kemudian bermain di waktu luang dengan hobi mereka, menghabiskan waktu dengan anak-anak, keluarga, dan kerabat, jadi mereka tidak punya waktu untuk berdo’a. 

Jadi inilah alasan mengapa orang-orang tidak lagi peduli dengan do'a. Tapi terlepas dari itu semua, do’a adalah sebuah obat untuk menyembuhkan segala penyakit dan duka. Do’a adalah senjata bagi orang-orang beriman. “Do’a merupakan pondasi agama Islam dan merupakan cahaya langit dan bumi.”

KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN DO’A

Saudaraku … do’a itu memiliki banyak sekali fadhilah atau keutamaan. Berikut ini di antaranya:

Do’a adalah ibadah dan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Do’a adalah ibadah.” (HR. Abu Daud no. 1479, At Tirmidzi no. 2969, Ibnu Majah no. 3828 dan Ahmad 4/267; dari An Nu’man bin Basyir)

Do’a itu amat bermanfaat dengan izin Allah. Manfaat do’a ada dalam tiga keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ )اللَّهُ أَكْثَرُ (

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)

Do’a adalah sebagai peredam murka Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

Barangsiapa yang tidak meminta pada Allah, maka Allah akan murka padanya.” (HR. Tirmidzi no. 3373. Syaikh Al Albani mengatakan  bahwa hadits ini hasan)

Semoga faedah ramadhan kali ini memberikan kita motivasi untuk terus berdo’a dan banyak memohon pada Allah. Setiap do’a pasti bermanfaat. Setiap do’a pasti akan diberi yang terbaik oleh Allah menurut-Nya. Jadi jangan putus untuk terus memohon.

Jadi, pasca Ramadhan ini spirit pembangunan menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur itu harus menjadikan Pemimpin dan seluruh rakyat bangsa ini saleh: beriman, berilmu, bersyukur, dan berkarakter mulia, dan bukan sebaliknya.

Menyempurnakan Ibadah Puasa Ramadhan dengan Puasa Syawal

Bulan Ramadhan adalah mata rantai kebaikan yang hendaknya tidak terputus dengan berakhirnya bulan suci ini. Amalan sunnah yang dianjurkan untuk kita laksanakan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi kita tercinta Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:منْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam.

Allahu akbar… allahu akbar… laa ilaaha illallahu wallahu akbar, allahu akbar walillahil hamd…

Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah.

Demikian khutbah ‘ied pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, memacu dan memicu kesadaran dan semangat kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan dengan mengokohkan perjuangan menuju baldah thoyyibah. Aamiin.

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Akhirnya, marilah kita akhiri dengan berdo’a:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.

Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki.

Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami.

Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami.

Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan

dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ،

 رَبَّناَ آتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ،. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

 اللَّهُمَّ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْناَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ، سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُهُ الظَّالِمُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلىَ المْرسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وصَلِّ اللَّهُمَّ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

 

[1]Maksudnya: banjir besar yang disebabkan runtuhnya bendungan Ma'rib.

[2]Pohon Atsl ialah sejenis pohon cemara pohon Sidr ialah sejenis pohon bidara.