Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Khutbah Idul Adha 1437 H - Menelusuri Jejak-Jejak Ibrahim AS


Materi Khutbah Idul Adha 1437 H oleh

Amir Jama'ah Ansharusy Syari'ah - Ustadz Mochammad Achwan

"MENELUSURI JEJAK-JEJAK IBRAHIM AS-

Download File Pdf:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وّأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِكُلِّ أُمَّةٍ مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ وَلِيُعَظِّمُوْا شَعَائِرَ اللهِ وَهُوَ اْلعَزِيْزُ ذُوْ الرَّحْمَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، هُوَ وَلِـيُّـنَا فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ يَتْلُوْا عَلَيْنَا آيَاتِ اللهِ، وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَاْلحِكْمَةَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فيِ العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ إِخْوَانِي فيِ الدِّيْنِ رَحِمَ كُمُ الله؛ اُوْصِيْكُمْ  وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ

قَالَ اللهٌ تَعَالَى فيِ كِتَابِهِ اْلكَرِيْم

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

 

MENELUSURI JEJAK-JEJAK IBRAHIM AS

 

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Segala puja dan puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT Penguasa alam semesta. Dialah yang Maha Agung, Maha Terpuji, Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya, menghidup-hidupkan syi’ar-syi’ar-Nya yakni sholat ‘Idul Adha dan insya Allah kita lanjutkan dengan penyembelihan hewan Qurban sebagai bentuk ketundukan kita kepada-Nya.

Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah rha bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tiada perbuatan anak Adam yang paling disukai Allah untuk dilaksanakan pada hari Nahr selain mengucurkan darah hewan qurban, hewan itu akan datang pada hari kiamat berikut tanduk, telapak kaki dan bulu-bulunya. Darahnya itu akan menetes ke dalam sebuah wadah dari sisi Allah, sebelum darah itu jatuh ke tanah maka bergembiralah dengan hewan qurban itu”

Di pagi hari pada tanggal 10 Dzulhijjah ini dihampir seluruh penjuru dunia kaum muslimin melaksanakan sholat Ied, sementara saudara-saudara kita yang lain sedang melaksanakan ibadah Haji di Baitullah yang diberkahi.

Sholat Idul Adha dan serangkaian peribadatan haji sangat erat sekali hubungannya dengan perjalanan hidup Nabiyullah Ibrahim AS beserta istri (Siti Hajar) dan putranya (Nabi Ismail AS).

Ibrahim AS Kholilullah adalah figur hamba Allah yang lurus (hanif) bersih aqidahnya dari noda-noda syirik, tegar dalam melaksanakan tugas sebagai penganjur kebenaran. Dialah uswah hasanah (suri tauladan yang baik) yang sepatutnya menjadi panutan bagi mereka yang telah beriman kepada Allah SWT dan hari akhir.

۞وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٧٤وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ٧٥

Artinya :

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memper-lihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin”. (QS. Al-An’am (6) : 74-75)

Itulah sosok Ibrahim yang senantiasa bicara apa adanya tanpa ewuh pakewuh ketika melihat kemunkaran / kesesatan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat luas, karena ia yakin atas kebesaran dan keagungan Tuhannya (Allah SWT) yang tidak terbatas.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ikhwani fiddin arsyadakumullah

Lebih lanjut marilah kita perhatikan perjalanan spiritual Ibrahim dalam mencari Tuhannya, perjalanan spiritual menuju ‘aqidah yang bersih dari noda syirik.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ٧٦فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ٧٧فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ٧٨إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٧٩

Artinya :

“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku’, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam.’ Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku’. tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.’ Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. Al-An’am: 76-79)

Sejak semula Ibrahim AS telah dapat melihat Azar (ayahnya) dan kaumnya berada dalam kesesatan. Betapa tidak, sekian banyak patung baik yang kecil maupun yang besar buatan mereka sendiri disembah, dipuja, diambil berkahnya dan sebagainya, akankah dapat menolong dan atau menyelamatkan pemujanya? Bahkan bergeser sedikit saja dari tempatnya tidak mampu. Hal yang demikian adalah merupakan satu kebodohan dan kesesatan yang nyata.

Dalam proses selanjutnya, penemuannya terhadap bintang, bulan dan matahari, nalar Ibrahim tidak dapat menerima karena akhirnya semuanya lenyap/sirna, sehingga dia berkesimpulan bahwa tidak sepatutnya sesuatu yang fana/nisbi dipertuhankan, dipuja dan diagung-agungkan apalagi harus dibela mati-matian dan menjadi harga mati.

Maka ketahuilah sesungguhnya apa yang ada dan nampak di muka bumi dan apa yang ada di langit semuanya adalah makhluk (yang diciptakan) bukan “Al-Kholiq” (Sang Pencipta). Dia, Al-Kholiq jauh dari apa yang disifatkan oleh manusia. Dia Maha segala-galanya, dan kita sebagai bagian dari makhluk ciptaan Allah seharusnyalah tunduk dan patuh sepatuh-patuhnya kepada-Nya dan menjauhi pemikiran dan perilaku yang berbau kemusyrikan.

Allah telah memerintahkan pada kita (kaum muslimin) agar mengikuti millah Ibrahim

AS yang lurus bersih dari noda-noda syirik, sembari mengerahkan seluruh hidup kita hanya kepada-Nya (Rabbal ‘Alamin).

قُلۡ إِنَّنِي هَدَىٰنِي رَبِّيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ دِينٗا قِيَمٗا مِّلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٦١قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣

Artinya :

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik’. Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’”. (QS Al-An’am (6) : 161-163)

Mengikuti millah Ibrahim AS yang lurus, karena beliaulah adalah Imam (panutan) yang sepatutnya diteladani, karena beliau telah sampai kepada tingkatan Kholilullah (kekasih Allah).

Banyak ulama salaf berkata: Artinya beliau telah melaksanakan seluruh perintah dan berada di dalam setiap maqom (tingkatan) ibadah, dimana bagi Ibrahim perkara yang agung tidak menjadikannya melalaikan perkara yang sepele, begitu pula perkara yang besarpun tidak menjadikannya melalaikan perkara yang kecil.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Kaum Muslimin rahimany wa rahimakumullah

Itulah sebaik-baik agama, sesempurna-sempurna tuntunan hidup yang akan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kehancuran di dunia maupun di akhirat kelak, di tengah-tengah banyaknya orang yang menyatakan bahwa agamanya paling baik dan benar, jalan hidupnya adalah jalan hidup yang menjanjikan kesejahteraan, Allah SWT lah yang menyatakan agama yang terbaik adalah agama yang telah dijalankan dan diikuti Ibrahim AS sebagaimana firman-Nya

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينٗا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا ١٢٥

Artinya :

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. (QS An-Nisa’ :125)

Demikianlah sosok manusia teladan (Ibrahim AS), perjalanan hidupnya dilestarikan dan terus menerus ditapaktilasi kaum muslimin setiap tahun dengan melaksanakan ibadah haji.

Sementara di sisi lain mereka yang tidak mau mengikuti millah Ibrahim atau katakan dunia pada umumnya saat ini sedang merintih, karena tidak berhasilnya ideologi mereka, aturan-aturan yang mereka ciptakan sendiri, sudah terbukti tidak berhasil dan gagal (dalam mewujudkan upaya-upaya perbaikan dalam segala bidang kehidupan manusia), karena memang ideologi-ideologi tersebut buatan manusia.

Fenomena akhir zaman yang tanda-tandanya terlalu banyak untuk disebutkan, fitnah-fitnah meluas sedemikian rupa dan yang paling mencolok, munculnya para pemimpin dari kalangan manusia yang tidak beriman, jelek perangainya, kotor tutur katanya dan sebagainya.

Kekuasaan didominasi para penjahat sementara manusia-manusia pilihan tersing-kirkan, hal seperti ini telah disinyalir Rasulullah SAW dalam sabdanya.

Dari Ibnu Umar RA telah bersabda Rasulullah SAW,

أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُرْفَعَ الْأَشْرَارُ وَتُوضَعَ الْأَخْيَارُ، أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الْقَوْلُ وَيُخْزَنَ الْعَمَلُ، أَلَا إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُتْلَى الْمَثْنَاةُ فَلَا يُوجَدُ مَنْ يُغَيِّرُهَا، قِيلَ لَهُ: وَمَا الْمَثْنَاةُ؟ قَالَ: مَا اسْتُكْتِبَ مِنْ كِتَابٍ غَيْرِ الْقُرْآنِ

Artinya :

“Ketahuilah diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya orang-orang yang berperangai buruk (menjadi pemimpin) dan mengabaikan orang-orang pilihan. Ketahuilah diantara tanda-tanda hari kiamat adalah nampaknya perkataan semata dan terpendam amal perbuatan. Ketahuilah diantara tanda-tanda hari kiamat adalah dibacakannya Al Mutsanat dan tidak ada orang yang mengubahnya. Lalu ia ditanya, ‘Apa Al Mutsanat itu?’ Ia menjawab, ‘Segala yang ditulis selain Al Qur’an’”. (HR. Ad-Darimi 476)

Hadist di atas menerangkan empat pertanda hari kiamat yang menunjukkan buruknya kondisi umat manusia pada umumnya yang umat Islam termasuk di dalamnya. Yang jelas terjadi ketika orang yang buruk, keji dan dzalim berkuasa maka dapat dipastikan orang-orang yang baik sholeh akan terdzalimi dengan disingkirkannya mereka dari keikutsertaan dalam menentukan kebijakan demi perbaikan umat. Bahkan tak segan-segan menuduh dan menfitnah orang-orang yang baik sebagai provokator dan atau perusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara.

Makna dari diangkatnya orang-orang dzalim untuk menduduki posisi terhormat menjadi pemimpin tidak lain menunjukkan bahwa kondisi masyarakatnya memang sudah rusak parah dalam segala sisinya. Perkataan kotor banyak terlontarkan sedang amal sholih malu-malu untuk dilakukan.

Dapatlah dipahami bahwa kecenderungan masyarakat telah menyimpang dari nilai-nilai dan petunjuk Allah SWT, sehingga carut marutlah tata kehidupan bermasyarakat baik dalam bidang politik ekonomi maupun sosial.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah

Dalam situasi dan kondisi seperti itu, apa yang harus kita lakukan, dengan cara seperti apa memperbaikinya, apakah kita harus lari menyingkir dari persoalan sedemikiannya.

عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللهَ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ تُطَاقُ الْمَعٍيْشَةُ فِيْهِمْ إِلاَّ بِالْمَعْصِيَةِ حَتَّى يَكْذِبَ الرَّجُلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ إِلَى أَيْنَ الْمَهْرَبِ ؟ قَالَ : إِلَى الله تَعَالَى وَ إِلَى كِتَابِهِ وَ إِلىَ سُنَّةِ نَبِـيِّهِ (الديلمى)

Artinya :

“Dari Anas RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana orang-orang tidak sanggup lagi mencari penghidupan kecuali dengan maksiat, sampai-sampai seseorang harus berbohong dan bersumpah, maka apabila  keadaan zaman sudah seperti itu hendaklah kalian lari menjauhkan diri.’ Ditanya Rasul, ‘Ya Rasulallah kemana harus mencari tempat pelarian?’ Beliau menjawab, ‘Kepada Allah Ta’ala dan kepada Kitab-Nya dan kepada Sunnah Nabi-Nya”. (HR. Ad Dailamy)

Sabda Rasulullah SAW di atas menggambarkan keadaan satu zaman yang benar-benar rusak penuh dengan maksiat. Ketika zaman seperti itu terjadi hendaklah kita menjauhinya dan tidak melibatkan diri, akan tetapi mencari solusi untuk mengatasinya.

Rasul SAW memberikan arahan dengan melakukan tiga langkah kongkrit :

  1. Kembali kepada Allah Ta’ala dalam arti bertaubat dari kemaksiatan menuju ampunan-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larang-larangan-Nya, tunduk berserah diri setulus-tulusnya dan mengakui segala dosa-dosanya yang telah dilakukan.
  2. Kembali kepada Kitab-Nya yakni menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam kehidupan, baik secara pribadi, keluarga, masyarakat bahkan dalam mengelola sebuah negara.
  3. Mengikuti sunnah Nabi-Nya yaitu meneladani pola hidup yang telah dicontohkan Rasul SAW dalam seluruh aspek kehidupan. Karena beliau adalah uswatun hasanah atau suri tauladan yang baik. Beliau sebagai seorang hamba yang sholeh sebagai kepala rumah tangga yang baik, sebagai pemimpin yang bijaksana dan beliau seorang panglima perang yang handal dan tangguh.

Jelaslah kiranya arahan Rasulullah SAW kepada umatnya ketika berada dalam kondisi yang sedemikian rupa, umatnya tidak boleh tinggal diam, minimal memulai dari dirinya sendiri, melaksanakan tiga langkah kongkrit yakni bertaubat kepada Allah, kembali kepada syari’at Allah dan Rasul-Nya. Dan mencari pemimpin yang mau meneladani seorang yang termulia di muka bumi ini, Muhammad bin Abdillah, Rasulullah SAW.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ma’asyirol Muslimin Hadakumullah!

Sembari bertawakkal kepada Allah karena tiada daya dan kekuatan melainkan dari sisi-Nya, kita berupaya sekuat-kuatnya, berbuat dengan sungguh-sungguh sampai Allah memberikan jalan keluar dari kondisi yang memprihatinkan seperti yang telah diterangkan sebelumnya.

Kembali kepada Ibrahim AS sebagai uswatun hasanah, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qotadah, ia menceritakan bahwa Al-Hasan Al Basri pernah menuturkan, “Demi Allah, Allah telah menguji Ibrahim dengan suatu masalah, lalu ia bersabar atasnya. Diuji dengan bintang, matahari, dan bulan dan ia mampu melampauinya dengan baik. Ia tahu bahwa Rabbnya tidak akan pernah lenyap, kemudian ia mengarahkan wajahnya kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan dia bukan dari golongan orang-orang munafik. Setelah itu, Allah mengujinya denga hijrah, dimana dia pergi dari negeri kaumnya dengan niat hijrah karena Allah Ta’ala, hingga ia sampai ke Syam. Kemudian dia diuji dengan api (yaitu dibakar) sebelum hijrah, diapun menghadapinya dengan penuh kesabaran, selain itu Allah memerintahkan menyembelih putranya (Ismail) dan berkhitan, lalu iapun bersabar atasnya”.

Buah dari kesabaran melaksanakan perintah itulah, Allah menjadikan Ibrahim sebagai Imam / panutan bagi seluruh umat manusia yang selalu mengikuti jejaknya.

۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ ١٢٤

Artinya :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim’.” (QS Al-Baqarah: 124)

Kalau kaum muslimin Ittiba’ kepada Ibrahim AS dengan sugguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan benar-benar meninggalkan apa yang dilarang-Nya, Insya Allah akan muncul dikalangan orang-orang beriman pemimpin yang baik yang mendapat bimbingan dan arahan Allah SWT, yang akan membawa kemaslahatan umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya.

Mengakhiri khutbah ini saya berpesan kepada segenap kaum muslimin dan tentu kepada diri saya sendiri, marilah kita bersama-sama bahu membahu menghadapi kemunkaran yang semakin merejalela di sekitar kita, baik kejahatan/kemunkaran yang dilakukan oleh orang perorang maupun kejahatan/kemunkaran yang terorganisir didukung oleh kekuatan yang besar dan terlembagakan.

Hal ini sangat penting karena kalau kita biarkan kejahatan / kemungkaran akan merusak tatanan hidup bermasyarakat, merusak generasi dan yang lebih kita khawatirkan adalah murka dan kutukan Allah SWT.

Bukankah Bani Israil dikutuk melalui lisan Daud dan Isa Ibnu Maryam gara-gara tidak mencegah kemunkaran yang dilakukan kaumnya. Lihat QS. Al-Maidah (5) :78-80

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ٧٩تَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ أَن سَخِطَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَفِي ٱلۡعَذَابِ هُمۡ خَٰلِدُونَ ٨٠

Artinya :

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan”.

Perhatikan sabda junjungan kita nabi besar Muhammad, Rasulullah SAW ini

لَتَأْمُرُنَّكُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ وَتَأْخُذُنَّ عَلَى يَدِ الظَّالِمِ وَلَتَطْرَأَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ اَطْرًا، وَلَتَقْصًرَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ قَصْرًا، أَوْلَيَضْرِبَنَّ اللهُ بِقُلُوْبِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ ثُمَّ لَيَلْعَنُكُمْ كَمَا لَعَنَهُمْ (الترمذى)

Artinya :

“Tegakkanlah amar makruf dan cegahlah kemunkaran bertindaklak terhadap yang dzalim, bimbinglah dia mengikuti yang haq dan kurangi gerakannya agar tidak menyimpang dari yang haq. Kalau tidak maka Allah akan menumbuhkan kebencian dan permusuhan dalam hati-hati kalian, kemudian Allah akan mengutuk kamu sebagaimana kutukan-Nya bagi mereka”. (HR At Tirmidzi)

Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya dan semoga  kita dapat mengambil ibrah dari perjalanan hidup dari Nabi Ibrahim AS dan pengorbanannya. Dan mudah-mudahan Allah melimpahkan rakhmat dan karunia-Nya kepada kita agar kita dapat melaksanakan perinta-perintah-Nya rela berkorban degan apa saja yang kita miliki, sehingga terwujud izzul islam wal muslimin. Aamin ya Robbal alamin.

 

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافىِ نِعَمَهُ وَيُكَافىِءُ مَزِيْدَة * اللّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ * اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وآلِ إِبْرَاهِيْمَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا * اللّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْيَهُوْدَ وَالنَّصرى * اللّهُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَاجْعَلْهُ لَناَ إِمَامًا وَّنُوْرًا وَّهُدًى * اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ * وَنَعُوْذُ بِكِ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ * وَنَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ * وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ * وَنَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا سَأَلَكَ بِهِ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ * وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ * وَنَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لَنَا مِنْ أَمْرٍ أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا *

رَبَّناَ آتِنَا فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَّفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِناَ عَذَابَ النَّارِ

سُبِحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

10 Dzulhijjah 1437 H

Mochammad Achwan